Wisata Sejarah Jakarta – Pecinan Glodok Menyimpan Potensi Sejarah Besar!

Kalau anda sedang dalam misi pencarian wisata sejarah Jakarta, anda bisa mengunjungi daerah pecinan Glodok, lho! Ada apa saja di tempat ini? Mari simak ulasan penulis.

De Groot Kanaal (Kalibesar) – Wisata Sejarah Jakarta

De Groot Kanaal (Kalibesar)Kota Jakarta memang berada di dataran rendah. Hal itulah yang menjadikan Batavia di masa lalu memiliki banyak sekali rawa. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Hindia Belanda membuat kanal-kanal di kota.

Tujuan dari pembuatan kanal-kanal air adalah untuk mencegah banjir di musim hujan. Selain itu kanal-kanal juga dibangun untuk alur pelabuhan kapal-kapal kecil di masa lalu.

Di kawasan pecinan ini ada satu kanal yang masih ada hingga saat ini. namanya adalah De Groot Kanaal atau yang juga sering disebut sebagai Kalibesar. Dulunya kanal ini sering dijadikan lokasi lomba sampan oleh masyarakat etnis Tionghoa.

Toko Merah– Wisata Sejarah Jakarta

Bangunan tua lainnya yang menarik Nasi Tumpeng Jakarta untuk dieksplorasi adalah Toko Merah. Toko ini ada di sekitar Kalibesar, yaitu di Kalibesar Timur V. Toko Merah dibangun oleh Gubernur Jendral VOC tahun 1730 dan berdiri hingga saat ini.

Gubernur tersebut adalah Gustaff Baron Van Imhoff. Dia merupakan salah satu tokoh yang tidak setuju dengan peristiwa pembantaian Tionghoa di Jakarta. Gedung Merah ini pernah menjadi Akademi Maritim, yaitu di tahun 1743.

Setelah itu gedung ini juga pernah dijadikan kantor perusahaan Jacobson Van Den Berg. Kini fungsinya adalah sebagai kantor dari PT Dharmaniaga.

Tempat Ibadah Pecinan Jakarta– Wisata Sejarah Jakarta

Pecinan selalu identik dengan klenteng. Di Pecinan Jakarta juga ada klenteng yang bernama Klenteng Kim Tek Ie. Bangunan ini sudah ada sejak 1650.

Klenteng ini dibangun oleh Luiteneant Tionghioa Guo Xun Guan. Saat pembantaian Tionghoa terjadi, klenteng ini juga menjadi sasaran. Namun kemudian dibangun kembali.

Selain Klenteng ada juga sebuah gereja yang ada di sana. Gereja ini dulunya adalah sebuah rumah milik seorang Luitenant der Chinezen. Kini gereja ini melayani bahasa Indonesia dan Tionghoa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *